Istri Ikut Bantu Bunuh Hakim PN Medan di Samping Anaknya di Kasur

Istri Turut Membantu Bunuh Hakim PN Medan di Samping Anaknya di Kasur

Hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan, Jamaludin (55), dibunuh oleh dua orang aktor, Jefri Pratama (42) serta Reza Fahlevi (29), dengan dibekap di kamarnya hingga korban kehabisan oksigen serta mati lemas.

Hal itu tersingkap waktu pertemuan wartawan di Mapolda Sumut, Rabu (8/1/2020).

Kapolda Sumut Irjen Pol Martuani Sormin menerangkan, ke-2 aktor masuk ke rumah korban sebelum Jamaludin datang di tempat tinggalnya.

“Tempat eksekusi ada di rumah, di kamar korban,” tuturnya.

Dikatakannya, pembunuhan ini telah diperkirakan hingga aktor telah ada di rumah Jamaludin sebelum korban pulang.

“Dinanti. Mengapa di dalam rumah kelak akan didalami. Dibunuh di tempat tinggalnya,” papar Martuani.

Urutan insiden

Dalam info tercatat yang diberikan pada wartawan, Jamaludin serta Zuraida menikah pada tahun 2011 serta memiliki seorang anak. Seiring berjalannya waktu, Zuraida cemburu sebab menganggap diselingkuhi.

Di akhir tahun 2018, Zuraida merajut jalinan asmara dengan Jefri Pratama.

Lalu, pada tanggal 25 November 2019, keduanya berjumpa di Coffee Town, di Ringroad Medan, untuk berencana pembunuhan.

Mereka ajak Reza serta setelah itu sesudah setuju dengan gagasan itu, selanjutnya Zuraida memberi uang sebesar Rp 2 juta pada Reza.

Uang itu untuk beli 1 hp kecil, 2 pasangan sepatu, 2 potong kaus, serta 1 sarung tangan.

Zuraida Hanum Pembunuh Hakim MedanPada tanggal 28 November 2019 seputar jam 19.00 WIB, Jefri serta Reza dijemput Zuraida dengan mobil Toyota Camry BK 78 ZH di Pasar Johor di Jalan Karya Wisata, selanjutnya ke arah tempat tinggalnya.

Keduanya turun dari mobil serta masuk ke rumah korban. Sesaat Zuraida tutup pagar garasi mobil, lalu mengantarkan keduanya ke lantai 3.

Seputar jam 20.00 WIB, Zuraida naik ke lantai 3 membawakan minuman air mineral pada Jefri serta Reza.

Seputar jam 01.00 WIB, Zuraida naik kembali pada lantai 3 serta memberikan panduan pada Jefri serta Reza untuk turun serta membimbing jalan ke arah kamar korban.

Di kamar, korban kelihatan oleh Jefri serta Reza sedang menggunakan sarung serta tidak menggunakan pakaian. Sesaat anaknya tertidur.

Waktu itu, tempat Zuraida ada ditengah-tengah kasur di antara korban serta anaknya. Reza, waktu itu, ambil kain dari tepi kasur korban, selanjutnya membekap mulut serta hidung Jamaludin.

Jefri naik ke atas kasur, berdiri pas di atas korban serta menggenggam ke-2 tangan korban di samping kanan serta kiri tubuh korban.

Selain itu, Zuraida yang berbaring di samping kiri korban sekalian menindih kaki korban dengan ke-2 kakinya serta menentramkan anaknya yang sempat terjaga.

Setelah itu, sesudah percaya korban telah wafat, seputar jam 03.00 WIB, mereka berdiskusi untuk cari tempat pembuangan mayat korban.

Jasad korban gagasannya dibuang ke wilayah Berastagi. Mereka selanjutnya memakaikan korban dengan baju olahraga PN Medan, lalu memasukkan ke mobil korban Toyota Prado BK 77 HD di bangku baris ke-2.

Jefri menyopir mobilnya, sesaat Reza memakai sepeda motor Honda Vario Hitam BK 5898 AET.

Sesampainya di TKP pembuangan seputar jam 06.30 WIB, perseneling digeser ke tempat D lalu mobil korban ditempatkan ke jurang.

Simak juga: Main Tembak Ikan, Situs Joker123 Naik Daun.

Martuani menjelaskan, di antara korban serta istrinya pernah berlangsung pertikaian yang tidak dapat didamaikan.

Pada akhirnya, istri korban berinisiatif membunuh suaminya.

“Ini hari dikerjakan penahanan atas 3 terduga. Tindakannya ini disangkakan Klausal 340 sub-pasal 338, pembunuhan merencanakan,” tuturnya.

Zuraida Hanum Jadi Terduga Pembunuhan Hakim Jamaluddin, Ini Respon Pengacara Pengacara Zuraida Hanum, Onan Purba mulai bicara berkaitan penentuan status terduga client-nya, Zuraida terjebak dalam pembunuhan Hakim Jamaluddin Rabu, 8 Januari 2020 21:20

Beberapa terduga masalah pembunuhan Hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan, didatangkan polisi saat gelar masalah di Mapolda Sumatera Utara, Medan, Sumatera Utara, Rabu (8/1/2020). SERAMBINEWS.COM – Pengacara Zuraida Hanum, Onan Purba mulai bicara berkaitan penentuan status terduga client-nya, Zuraida Hanum yang terjebak dalam pembunuhan Hakim Jamaluddin.

Onan mengatakan sampai sekarang faksinya belum memperoleh surat penentuan terduga pada client-nya dalam masalah pembunuhan Hakim Jamaluddin, suami Zuraida Hanum.

“Sampai saat ini jika namanya penentuan terduga belumlah ada saya terima. Kami telah di Polresta (Medan) saat ini, saya pulang dari Polda,” katanya pada Tribun, Rabu (8/1/2020) melalui sambungan selular.

Dia mengutarakan jika faksinya belum dapat ingin memberi komentar banyak berkaitan penentuan terduga itu sebab belumlah ada surat penentuan terduga.

“Saya jadi penasihat hukumnya jika tidak ada bukti di tangan saya, saya tidak ingin memberi komentar mengenai itu. Tetapi kemungkinan bentar telah ada penentuan terduga penahanannya baru.”

“Itukan ada keharusan hukum buat kami, contohnya berita acara kontrol.

Sampai saat ini belum kita ketahui penentuan tersangkanya jadi berita acaranyapun belum diberi sama kita selanjutnya apa gagasannya ditahan, surat perintah penahanan juga belumlah ada sama kita,” papar Onan.

Selanjutnya, dia menerangkan jika penangkapan kepolisian pada client-nya itu terlalu berlebih.

“Menurut saya aksi polisi mengenai penangkapan itu terlalu berlebih, kok diamankan orangnya di sini, apa sich fungsinya.

Bukanlah sebab dicari ia ke rumah atau bagaimana. Ini sedang dikerjakan penyidikan terus kok diamankan, inikan menurut saya terlalu berlebih,” tuturnya.

KPK Tetapkan Bupati Sidoarjo Tersangka Suap Proyek Infrastruktur

Gasak Proyek Infrastruktur, Bupati Sidoarjo Ditangkap KPK

KPK Tentukan Bupati Sidoarjo Terduga Suap Project Infrastruktur РKPK sah memutuskan Bupati Sidoarjo Saiful Ilah jadi terduga penerimaan suap berkaitan project infrastruktur. Tidak hanya Saiful, KPK memutuskan kepala dinas serta petinggi di lingkungan Pemkab Sidoarjo jadi terduga.

“Searah dengan penyelidikan itu, KPK memutuskan enam orang terduga,” sebut Wakil Ketua KPK Alexander Marwata di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (8/1/2020).

Ke enam terduga itu ialah
Jadi penerima
1. Saiful Ilah jadi Bupati Sidoarjo 2010-2015 serta 2016-2021
2. Sunarti Setyaningsih sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Biasa, Bina Marga, serta Sumber Daya Air Kabupaten Sidoarjo
3. Judi Tetrahastoto sebagai petinggi pembuat loyalitas Dinas Pekerjaan Biasa, Bina Marga, serta Sumber Daya Air Kabupaten Sidoarjo
4. Sanadjihitu Sangadji sebagai Kepala Sisi Unit Service Penyediaan Jadi pemberi
5. Ibnu Ghopur jadi swasta
6. Totok Sumedi jadi swasta

Pemberian suap itu disangka terkait dengan beberapa project yang dimenangi Ibnu Ghopur. Berikut proyek-proyek itu:
1. Project Pembangunan Wisma Olahragawan sejumlah Rp 13,4 miliar
2. Project pembangunan Pasar Porong sejumlah Rp 17,5 miliar
3. Project Jalan Candi-Prasung sejumlah Rp 21,5 miliar
4. Project penambahan Afv. Karang Pucang, Desa Pagerwojo, Kecamatan Buduran, sejumlah Rp 5,5 miliar

Berita Terkait : Merasa Ditipu, Hendra Melaporkan Distributor Herbalife

Atas tindakannya Saiful, Sunarti, Judi, serta Sanadjihitu disangkakan melanggar Klausal 12 ayat (1) huruf a atau b atau Klausal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 seperti sudah dirubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 mengenai Pembasmian Tindak Pidana Korupsi juncto Klausal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sedang Ibnu serta Totok disangkakan melanggar Klausal 5 ayat 1 huruf a atau b atau Klausal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 seperti sudah dirubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 mengenai Pembasmian Tindak Pidana Korupsi juncto Klausal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Internal Pemkab Jadi Informan di Masalah Suap Bupati Sidoarjo

KPK Sebut Internal Pemkab Jadi Informan di Kasus Suap Bupati SidoarjoJakarta – Wakil Ketua KPK Alexander Marwata terus-terang memberitahu ada figur informan di balik operasi tangkap tangan (OTT) Bupati Sidoarjo Saiful Ilah. Ia menjelaskan informan dalam masalah ini dari barisan internal Kabupaten Sidoarjo.

“Berkaitan insiden ini kita tidak check saksi-saksi, tetapi kita memperoleh infomasi dari informan. Informan dari orang dalam kabupaten (Sidoarjo),” kata Wakil Ketua KPK Alexander Marwata di KPK Jl Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (8/1/2020).

Alex menjelaskan KPK serta informan yang disebut itu dengan intens merajut komunikasi masalah info sangkaan suap itu semenjak 6 bulan. Alex menyebutkan untuk lakukan OTT pada Saiful Ilah itu KPK mengikutinya sampai Padang.

“Kita turuti. Serta dalam rencana kerjakan OTT tersebut, team KPK ikuti yang berkaitan sampai ke Padang, Padang kita turuti perjalanannya sampai naik pesawat Padang ke Surabaya kita ikutin satu pesawat serta team kami juga. Kita turuti, pasti info kita terima dari informan, tidak hanya dari pembicaraan,” ucapnya.

Karena, kata Alex, beberapa faksi itu telah mulai waspada memakai alat komunikasi sebab takut disadap oleh KPK. Karenanya, KPK manfaatkan info dari warga berkaitan terdapatnya sangkaan suap yang dikerjakan Saiful Ilah.

“Beberapa orang atau masyarkat yang mengetahui insiden itu kita klarifikasi, komunikasi terus hasilnya kita sukses kerjakan OTT. Ini adukan awal yang diterima KPK akan ada penerimaan uang berkaitan penerapan project di Sidoarjo. Kemungkinan saat nanti penyelidikan akan berkembang pasti,” papar Alex.

Dalam masalah, KPK memutuskan enam orang terduga dalam masalah ini. Mereka adalah:

Jadi penerima
1. Bupati Sidoarjo Saiful Ilah
2. Kadis PU, Bina Marga serta SDA Sidoarjo, Sunarti Setyaningsih
3. PPK di Dinas PU, Bina Marga serta SDA Sidoarjo, Judi Tetrahastoto
4. Kabag ULP, Sanadjihitu Sangadji

Jadi Pemberi
1. Swasta, Ibnu Ghopur
2. Swasta, Totok Sumedi.

Mereka disangka terima suap sebab memenangi Ibnu dalam beberapa project. Diantaranya project wisma olahragawan, Pasar Porong, Jalan Candi-Prasung serta penambahan Afv Karag Pusang Desa Pagerwojo.