Serangan Teror Paris Turut Bayangi Nilai Tukar Rupiah

Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS), tetapi kecenderungan melemah pada perdagangan Selasa kemarin. Hal itu karena rencana kenaikan bank sentral AS pada Desember 2015 masih membayangi rupiah. Berdasarkan kurs rujukan Jakarta Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah menguat 21 poin ke level 13.711 per dolar AS dari posisi Senin 16 November 2015 di level 13.732 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat  Serangan Teror Paris Turut Bayangi Nilai Tukar Rupiah

Mengutip data Bloomberg, Selasa (17/11/2015), rupiah dibuka naik 66 poin ke level 13.683 per dolar Amerika Serikat (AS) dari penutupan perdagangan Senin pekan ini di level 13.749 per dolar AS. Akan tetapi, rupiah bergerak cenderung melemah ke level 13.732 per dolar AS pada pukul 13.40. Rupiah bergerak di kisaran 13.683-13.768 per dolar AS sepanjang hari tersebut.

Ekonom PT Bank Danamon Tbk Dian Ayu menuturkan, serangan teror Paris cukup menghipnotis pasar uang terutama euro melemah. Hal itu dinilai berimbas negatif ke rupiah. Euro turun 0,5 persen menjadi US$ 1.0715. Sementara itu, indeks dolar AS cenderung naik 0,1 persen menjadi 99,08 terhadap enam mata uang utama lainnya.

Sedangkan berdasarkan Analis pasar uang PT Bank Mandiri Tbk, Renny Eka Putri menuturkan pengumuman neraca perdagangan sebesar US$ 1,01 miliar pada Oktober 2015 menunjukkan sentimen positif ke pasar. Akan tetapi, investor cenderung berspekulasi terhadap kenaikan suku bunga bank sentral AS atau the Federal Reserve pada Desember 2015.

Renny menilai, pemimpin bank sentral AS Janet Yellen belum menunjukkan pernyataan niscaya apakah akan ditunda atau menaikkan suku bunga. Hal itu masih membayangi pasar. Data-data ekonomi AS mulai dari data tenaga kerja positif masih menjadi spekulasi dan sinyal bank sentral AS untuk menaikkan suku bunga.

Oleh karena itu, Renny juga mengatakan, Bank Indonesia (BI) masih mempertahankan suku bunga contoh atau BI Rate di level 7,5 persen. Hal itu untuk mengantisipasi kenaikan suku bunga bank sentral AS.

Di pasar uang global, euro melemah 0,5 persen menjadi US$ 1.07205. Euro melemah ke level terendah dalam enam bulan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Tekanan euro ini terjadi karena ada kekhawatiran serangan teror Paris sanggup memukul ekonomi Eropa. Pelemahan mata uang tersebut juga diikuti mata uang Asia dengan mata uang Korea Selatan Won memimpin pelemahan, kemudian disusul rupiah.