Jogja Punya Acara: Perhelatan Pekan Raya Desain Penataan Malioboro 4 Hari Lagi

Pemerintah Kota Jogja terus menggencarkan sosialisasi penataan kawasan�Malioboro kepada banyak sekali komunitas dan elemen masyarakat yang berada di daerah tersebut.�Minggu depan juga akan digelar festival hasil sayembara penataan Malioboro.

Pemerintah Kota Jogja terus menggencarkan sosialisasi penataan kawasan�Malioboro kepada be Jogja Punya Acara: Perhelatan Pameran Desain Penataan Malioboro 4 Hari Lagi

Upaya sosialisasi masuk dalam tahap pra penataan. Sosialisasi dilakukan untuk menjaring pendapat dari seluruh elemen masyarakat terkait rencana penataan yang akan dilakukan.

Pameran Desain Penataan Malioboro 4 Hari Lagi

Nah perwujudan bentuk sosialisasi kepada masyarakat yang akan dilakukan yaitu dengan memamerkan hasil sayembara desain Malioboro yang akan di selenggarakan 4 hari lagi. Tepatnya pada 21-22 November 2015.

Pemerintah Kota Jogja terus menggencarkan sosialisasi penataan kawasan�Malioboro kepada be Jogja Punya Acara: Perhelatan Pameran Desain Penataan Malioboro 4 Hari Lagi

Pameran Desain Penataan Kawasan Malioboro, akan diselenggarakan pada tanggal 21-22 November di Benteng Vredenburg. Di sini dan dalam event ini hasil dari desain penataan Kawasan Malioboro akan di helat. Bagi anda yang ingin menyaksikan perhelatan Pameran desain Penataan Kawasan Malioboro tiba dan ikuti kemeriahan perhelatannya 4 hari lagi.

 

 

Kedungmiri, Imogiri Meriah Dengan Pameran Sewu Kitiran

Akhir pekan kemudian (Sabtu-Minggu/14-15 November 2015) telah diadakan program yang cukup menarik dan sayang untuk dilewatkan, sebuah program hiburan unik di Bantul sisi timur tepatnya di Dusun Sompok dan Kedungmiri, Sriharjo, Imogiri, Bantul. Festival Sewu Kitiran (seribu kitiran/baling-baling) kembali digelar di dusun ini.

Event yang diprakarsai Sekolah Vokasi UGM (Diploma Bahasa Perancis) bersama warga Sompok dan Kedungmiri ini didukung oleh Dinas Pariwisata DIY. Event ini sangat unik dan khas, di samping sebagai ajang kreasi serta pemberdayaan masyarakat. Karena itu Dinas Pariwisata DIY sangat mendukung alasannya yaitu kawasan yang diapit dua tebing tersebut begitu indah serta layak dikunjungi wisata atau dapat dijadikan sebagai destinasi wisata baru.

 telah diadakan program yang cukup menarik dan sayang untuk dilewatkan Kedungmiri, Imogiri Meriah Dengan Festival Sewu Kitiran

Kemeriahan Festival Sewu Kitiran

Dalam event tersebut, kitiran-kitiran tersebut dipajang di aneka macam tempat dan akan dinilai dari sisi artistiknya. Geografisnya sangat mendukung sehingga kitiran tersebut sangat stabil berputar tertiup angin dan mengeluarkan aneka macam bunyi-bunyian.

Tak hanya kitiran saja yang dilombakan, namun juga ada lomba Masak Thiwul dan lomba foto. Event ini juga akan ditampilkan aneka macam atraksi kesenian tradisional yakni Ketoprak, Gejok Lesung, Jathilan maupun karawitan. Untuk keperluan pentas juga telah dibangun panggung terbuka seluas 600 meter persegi yang nantinya dapat dimanfaatkan bagi siapa saja yang akan pentas di sana.

Event ‘Sewu Kitiran’ sendiri akan dimulai pada Sabtu (14/11) yang diawali dengan Bazar Desa pada pukul 13.00. Sementara pembukaan gres berlangsung pada Sabtu malam pukul 19.00. Pada Minggu (15/11), lokasi ‘Sewu Kitiran’ dilewati oleh sekitar 700 penerima Jogja International Heritage Walk ( JIHW) yang berasal dari 19 negara.

Memaknai Filosofi Grebeg Sekaten Yogyakarta

Grebeng ialah prosesi budpekerti sebagai simbol sedekah dari pihak Kraton Yogyakarta kepada masyarakat berupa gunungan. Kraton Yogyakarta dan Surakarta setiap tahunnya selalu mengadakan upacara grebeng sebanyak tiga kali pada hari besar Islam, yaitu Grebeg Syawal pada Hari Raya Idul Fitri, Grebeg Besar bertepatan pada Hari Raya Idul Adha dan Grebeg Maulud yang lebih terkenal Grebeg Sekaten pada peringatan Hari Lahir Nabi Muhammad SAW.

Lautan insan memadati Alun-alun Utara sampai pintu gerbang Masjid Gedhe untuk mengikuti prosesi Grebeg Maulud dengan membawa Gunungan sebagai puncak program Sekaten yang telah berlangsung selama satu bulan.� Tumpah ruah mejadi satu dengan banyak sekali kepentingan untuk menikmati Grebeg Sekaten ini.

Grebeng ialah prosesi budpekerti sebagai simbol sedekah dari pihak Kraton Yogyakarta kepada mas Memaknai Filosofi Grebeg Sekaten Yogyakarta

Filosofi Grebeg Sekaten

Kata grebeg berasal dari kata gumrebeg yang mempunyai filosofi sifat riuh, ribut dan ramai. Tidak ketinggalan pula kata gunungan mempunyai filosofi dan simbol dari kemakmuran yang kemudian dibagikan kepada rakyat. Gunungan di sini ialah representasi dari hasil bumi (sayur dan buah) serta jajanan (rengginang).

Pada Grebeg Sekaten, gunungan yang dijadikan simbol kemakmuran ini mewakili keberadaan insan yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Gunungan yang dipakai berjulukan Gunungan Jaler (pria), Gunungan Estri (perempuan), serta Gepak dan Pawuhan. Gunungan ini dibawa oleh para abdi dalem yang memakai pakaian dan peci berwarna merah marun dan berkain batik biru bau tanah bermotif bulat putih dengan gambar bunga di tengah lingkarannya. Semua abdi dalem ini tanpa memakai bantalan kaki alias nyeker.

Grebeng ialah prosesi budpekerti sebagai simbol sedekah dari pihak Kraton Yogyakarta kepada mas Memaknai Filosofi Grebeg Sekaten Yogyakarta

Prosesi Kirab Gunungan dimulai dari Kori Kamandungan sebagai titik awal kirab Grebeg untuk dibawa menuju halaman depan Masjid Gedhe. Tembakan salvo menjadi tanda dimulainya kirab. Dari Kamandungan, gunungan dibawa melintasi Sitihinggil kemudian menuju Pagelaran di alun-alun utara untuk diletakkan di halaman Masjid Gedhe dengan melewati pintu regol.

Prajurit Wirobrojo yang dikenal dengan prajurit lombok kakak sebab pakaiannya yang khas berwarna merah-merah dan bertopi Kudhup Turi berbentuk ibarat lombok mempunyai kiprah sebagai cucuking laris alias pasukan garda terdepan di setiap perhelatan upacara kraton. Sebelum memasuki program puncak ‘rebutan gunungan’ serah terima pengawalan gunungan dilakukan, dari prajurit Wirobrojo ke prajurit Bugis yang berseragam hitam-hitam dengan topi khas pesulap serta ke prajurit Surakara yang berpakaian putih-putih. Setelah gunungan diserahkan kepada penghulu Masjid Gede untuk didoakan oleh penghulu tersebut, gunungan pun dibagikan.

Selesai doa diucapkan, gunungan pun sontak direbut oleh masyarakat yang tiba dari seluruh penjuru Jogja. Memang ada kepercayaan dari masyarakat bahwa barangsiapa yang menerima belahan apa pun dari gunungan tersebut, beliau akan menerima berkah. Kegiatan ‘ngrayah’ atau berebut menunjukan sebuah filosofi bahwa insan dalam kehidupannya untuk mencapai tujuan harus berani melaksanakan persaingan dan permasalahan hidup harus dihadapai bukan untuk dihindari.

Selain prosesi ‘ngrayah’ terdapat pula ciri khas dari Grebeg Sekaten ini, yaitu telur merah yang erat disebut ‘ndog abang’ yang ditusuk dengan bambu dan dihiasi kertas sebagai bunga-bunga untuk mempercantiknya. Saya sempat bertanya arti filosofi telur merah kepada ibu penjual tersebut. Menurutnya, telur ialah bentuk permulaan kehidupan, sedangkan bambu yang menusuk telur tersebut perlambang bahwa semua kehidupan di bumi ini mempunyai poros yaitu Gusti Alloh. Warna merah artinya keberuntungan, rejeki, berkah dan keberanian.

 

Pelestarian Budaya Warga Tepus Menggelar Upacara Etika Nyadran Di Pantai Watulawang

Dalam rangka pelestarian budaya, ratusan warga Desa Tepus, kecamatan Tepus menggelar ritual nyadran di Pantai Watulawang, Senin (07/12/2015). Kegiatan ini bertujuan supaya segala undangan sanggup dikabulkan.

Salah satu sesepuh, Mbah Sajio mengatakan, kalau kegiatan ini diikuti oleh 7 padukuhan di Desa Tepus yakni, dusun Ngasem, Singkil, Tepus 1,Tepus 2, Tepus 3, Klumpit dan Jeruk. Kegiatan tersebut tradisi kuno masyarakat yang selalu digelar setiap dihari senin kliwon.� Setiap warga diharuskan membawa nasi ingkung ayam jawa satu ekor yang dibungkus memakai anyaman daun kelapa (Sarang) untuk syarat persembehan.

 kecamatan Tepus menggelar ritual nyadran di Pantai Watulawang Pelestarian Budaya Warga Tepus Menggelar Upacara Adat Nyadran Di Pantai Watulawang

Untuk nyadran ini dibagi menjadi dua kuarter, yang pertama dari dusun Ngasem dan Singkil, kuarter kedua dari dusun Tepus 1,Tepus 2, Tepus 3, Klumpit dan Jeruk.

Ia juga menambahkan, tradisi kuno masyarakat ini untuk undangan kepada yang maha kuasa dengan tujuan segala undangan atau permohonan dikabulkan.� Adanya kegiatan ini segala bentuk permohonan supaya sanggup dikabulkan, hasil pertanian khususnya sanggup berlimpah.